Apa pengaruh yang paling signifikan dari perkembangan teknologi,
khususnya teknologi informasi dan komuniksasi (TIK) terhadap dunia
pendidikan sekolah ? Pengaruhnya adalah terjadinya perubahan paradigma
pendidikan dari paradigma pengajaran (teaching) menjadi paradigma pembelajaran (learning). Jika paradigma pengajaran mengandaikan guru sebagai pusat belajar dan siswa menjadi obyek belajar, maka pada paradigma pembelajaran, siswa lah yang menjadi subyek dan sekaligus pusat dari proses belajar mengajar di sekolah.
Mengapa harus terjadi perubahan paradigma ? Karena, perkembangan TIK
yang begitu sangat pesat telah menyediakan lebih banyak beragam sumber
belajar secara lebih mudah, murah dan cepat. Kini, sumber pengetahuan
tidak lagi menjadi monopoli guru. Siswa dapat belajar dan menambah
pengetahuannya tanpa perlu harus melalui guru, karena siswa dapat
langsung mengakses beragam informasi yang tersedia di “perpustakaan
maya”, baik melalui fasilitas komputer pribadi (PC), laptop atau telepon
genggam. Sebuah jenis perpustakaan baru yang sangat luar biasa dalam
hal beragam informasi atau pengetahuan yang tersedia dengan akses yang
lebih mudah, cepat dan murah, yang dapat dilakukan kapanpun dan dari
manapun.
Dalam buku “Menuju Masyarakat Belajar, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan”, Mantan
Dirjen Dikdasmen Depdiknas (kini Kemendiknas), Indrajati Sidi, Ph.D
(2002) menjelaskan bahwa perubahan visi belajar di sekolah sesuai dengan
visi pendidikan UNESCO abad ke-21, yang lebih mendasarkan pada
paradigma learning, tidak lagi pada teaching. Keempat visi pendidikan itu adalah (1) learning to think (belajar berfikir, berorientasi pada pengetahuan logis dan rasional), (2) learning to do (belajar berbuat / hidup, berorientasi pada how to solve the problem, (3) learning to be, (belajar menjadi diri sendiri, berorientasi pada pembentukan karakter), dan (4) learning to live together (belajar hidup bersama, mengarahkan pada kerja sama dan sikap toleran).
Perubahan paradigma ini, tentu saja, akan berpengaruh pada fungsi dan
peran guru yang tidak lagi menjadi sentral atau segala-galanya bagi para
muridnya. Kini, guru harus lebih berperan sebagai fasilitator belajar
bagi siswanya, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal
sesuai dengan tingkat kemampuan dan minatnya masing-masing. Guru harus
lebih berfungsi sebagai motivator bagi para siswanya, terutama mengenai
bagaimana agar siswa dapat sukses belajar dan siap dalam menghadapi
dunia riil di masyarakat usai lulus sekolah nanti. Guru pun harus lebih
mengarahkan siswanya agar belajar untuk membiasakan diri dalam
memecahkan beragam masalah yang terjadi di masyarakat atau masalah yang
akan dihadapi oleh mereka kelak.
Perubahan paradigma ini juga akan mengubah cara guru dalam mengajar di
ruang kelas. Kini, guru harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada
para siswa untuk dapat belajar secara aktif melalui pendekatan dialogis.
Metode pengajaran ceramah yang cenderung bersifat monologis, perlu
diganti dengan metode pengajaran dialogis yang dapat merangsang siswa
agar lebih banyak bertanya atau berpendapat dalam suasana diskusi yang
menyenangkan. Dengan metode dialogis, siswa diharapkan akan lebih
berminat dalam membaca, baik membaca buku pelajaran, buku pengayaan atau
membaca informasi yang ada di dunia internet.
Dalam jangka panjang, model pendekatan dialogis ini akan dapat membangun
kemampuan logika berfikir siswa yang lebih sistematis dan cerdas. Siswa
akan lebih mampu dalam mengemukakan pendapatnya sendiri dengan
kata-kata atau kalimat yang disusun sendiri berdasarkan logika dan
kerangka berfikir sendiri. Siswa akan terbiasa memahami berbagai
pendapat yang berbeda dari teman-temannya, sekaligus membiasakan diri
untuk mengembangkan sikap toleransi dan semangat bekerjasama dalam
beragam perbedaan yang terjadi. Tentu saja, hal ini berarti sekaligus
menjadi bagian dari proses pembelajaran yang akan jauh lebih efektif
dalam pembentukan karakter dan kerpibadian siswa yang positif.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), memang sudah
seharusnya dapat memberikan pengaruh yang positif bagi pendidikan
sekolah. Bagi guru, hal ini merupakan tantangan tersendiri agar lebih
mampu menyesuaikan diri dalam meningkatkan kompetensi dan
profesionalismenya sebagai tenaga pendidik. Sementara itu, bagi siswa
sendiri, hal tersebut merupakan peluang yang sangat terbuka lebar untuk
memperoleh lebih banyak lagi beragam manfaat positif selama mengikuti
proses pembelajaran di sekolah.
Bagaimana dengan pendapat Anda ?
Demikian, terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar